Kamis, 26 November 2009

B. Sejarah Beberapa Kerajaan Islam Di Jawa, Sumatra, Kalimantan Dan Sulawesi

1. Kerajaan Islam di Jawa

a. Kerajaan Demak

Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa setelah jatuhnya Kerajaan Hindu Majapahit. Kerajaan Islam di Jawa Tengah ini, semula bernama Glagahwangi, sebuah desa di sebelah selatan Jepara, hadiah dari Prabu Brawijaya V (Kertabumi, Raja Majalahit) pada putranya, Raden Fatah yang juga disebut Pangeran Jinggun. Disitulah didirikan pesantren masjid Agung Demak. Oleh Prabu Brawijaya, Raden Fatah diangkat menjadi Pangeran Adipati Bintara. Tahun 1478, Majapahit ditaklukan Prabu Giridrawardana dari Kediri yang mengangkat dirinya sebagai Prabu Brawijaya VI. Peristiwa ini ditandai dengan canda sengkala “Sirna hilang kertaning bumi” (1478/1400 saka). Pada kesempatan ini, para wali mengangkat Raden Fatah sebagai pelanjut keturunan Brawijaya V sebagai Sultan di Bintara Demak dengan gelar Alam Akbar Al-Fatah.

Menurut sumber lain, Sunan Ampel memberi nama kepada Raden Fatah Senapati Jinbun Abdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama. Raden Fatah memang lahir di Palembang. Menurut sejarah, ketika Raden Fatah masih dalam kandungan ibunya yang berasal dari Cina, ibu muda ini diceraikan oleh Brawijaya V dan dihadiahkan kepada Aryadama Adipati Palembang. Sementara itu, Prabu Brawijaya VI yang memerintah Majapahit pada tahun 1498 M dikalahkan oleh Prabu Udara yang kemudian menamakan dirinya Brawijaya VII.

Pada masa pemerintahan Sultan Trenggana ini, Demak mengalami masa kejayaan, tetapi juga merupakan akhir dari sejarahnya. Sultan Trenggana bercita-cita untuk mengislamkan seluruh Jawa. Untuk Jawa Barat pengislamannya diserahkan kepada pendatang yang luar pengetahuan islamnya, ahli dalam bidang strategi militer, dan cakap pula mengatur pemerintahan, yaitu Fatahillah atau Syarif Hidayatullah yang setelah wafat dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.


b. Kerajaan Islam Pajang

Kesultanan Pajang merupakan kelanjutan dari Kerajaan Islam Demak, Sultan pertamanya ialah Jaka Tingkir yang berasal dari Pengging. Ia adalah menantu Sultan Trenggana yang diberi kekuasaan di Pajang. Setelah ia mengambil alih kekuasaan dari tangan Arya Panangsang tahun 1546 M seluruh kebesaran kerajaan dipindahkan ke Pajanng, dan ia diberi gelar Sultan Adiwijaya.

Sepeninggal Sultan Adiwijaya tahun 1587 M kedudukannya digantikan oleh Aria Panggiri, anak Sunan Prawoto. Sementara itu anak Sultan Adiwijaya yaitu Pangeran Benawa diberi kekuasaan di Jipang. Akan tetapi, ia mengadakan pemberontakan kepada Aria Panggiri dengan bantuan Panembahan Senopati dari Mataram. Usahanya itu berhasil dan ia memberikan tanda terima kasih kepada Panembahan Senopati berupa hak atas warisan ayahnya. Akan tetapi, Panembahan Senopati menolak tawaran tersebut dan hanya meminta pusaka kerajaan Pajang untuk dipindahkan ke Mataram. Dengan demikian, Kerajaan Pajang berada di bawah perlindungan Mataram yang kemudian menjadi daerah kekuasaan Mataram.


c. Kerajaan Islam Mataram

Setelah permohonan Panembahan Senopati Mataram atas penguasa Pajang berupa pusaka kerajaan dikabulkan, keinginannya untuk menjadi raja sebenarnya telah terpenuhi. Dalam tradisi Jawa, penyerahan pusaka seperti itu berarti penyerahan kekuasaan. Panembahan Senopati berkuasa sampai tahun 1601 M dan sepeninggalnya, ia digantikan oleh putranya bernama Seda Ing Krapyak yang memerintah sampai tahun 1613M. Seda Ing Krapyak digantikan oleh putranya Sultan Agung (1913-1646M)

Pada masa pemerintahan Sultan Agung inilah kontak bersenjata antara Kerajaan Islam Mataram dengan VOC mulai terjadi. Pada tahun 1646 M ia digantikan oleh putranya Amangkurat I. pada saat terjadi perang saudara dengan Pangeran Alit, ia mendapat dukungan dari para ulama. Akibatnya para ulama pendukung dibantai habis pada tahun 1947M. pemberontakan itu kemudian diteruskan pleh Raden Kajoran tahun 19677-1678M. pemberontakan-pemberontakan seperti itulah yang meruntuhkan Kerajaan Islam Mataram.


d. Kerajaan Islam Cirebon

Kesultanan Cirebon merupakan kerajaan Ilam pertama di Daerah Jawa Barat. Kerajaan ini didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Ia diperkirakan lahir tahun 1448 M dan wafat pada tahun 1568 M dalam usia 120 tahun. karena kedudukannya sebagai Walisongo, ia mendapat penghormatan dari raja-raja di Jawa seperti seperti Demak dan Pajang. Setelah Cirebon resmi berdiri, Sunan Gunung Jati berusaha meruntuhkan Pajajaran yang masih belum menganut ajaran Islam.

Dari Cirebon, Sunan Gunung Jati mengembangkan ajaran Islam ke daerah-daerah lain di Jawa Barat, seperti Majalengka, Kuningan, Galuh, Sunda Kelapa dan Banten. Pada tahun 1525 M ia kembali ke Cirebon dan Banten diserahkan kepada anaknya yang bernama Sultan Hasanudin. Sultan inilah yang menurunkan raja-raja Banten.

Setelah Sunan Gunung Jati wafat, ia digantikan oleh cicitnya yang bergelar Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu. Panembahan Ratu wafat tahun 1650M dan digantikan oleh putranya yang bernama Panembahan Girilaya. Sepeninggalnya, kesultanan Cirebon diperintah oleh dua orang putranya, yaitu Martawijaya atau Panembahan Sepuh dan Kartawijaya atau Panembahan Anom. Panembahan sepuh memimpin kesultanan Kasepuhan yang bergelar Syamsudin, sedangkan panembahan Anon memimpin Kesultanan Kanoman yang bergelar Badruddin.


e. Kerajaan Islam Banten

Kerajaan Banten merupakan kerajaan Islam yang terletak di ujung barat Jawa Barat, pendirinya adalah Sunan Gunung Jati (Fatahilah) setelah berhasil merebut kota pelabuhan dari tangan Bupati Sunda yang menjadi penguasa kota itu dengan bantuan laskar dari Demak. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1525 M

Setelah kerajaan itu cukup kokoh, lebih-lebih setelah dapat menguasai Sunda Kelapa, pada tahun 1522 Sunan Gunung Jati pindah ke Cirebon dan wafat disana, dan diangkatlah putranya, Hasanudin sebagai raja. Ia kawin dengan putri demak dan mendapat dua orang anak laki-laki. Yang sulung, Maulana Yusuf, dicalonkan untuk menjadi gantinya nanti. Adiknya, pangeran Aryo diasuh oleh bibi dari pihak ibunya Ratu Kalinyamat di Jepara yang tidak berputra (mungkin karena suaminya, Pangeran Hadiri terbunuh oleh Arya Penangsang). Setelah bibinya meninggal, ia menjadi adipati di Jepara dan terkenal dengan nama Pangeran Jepara.

Sultan Hasanudin wafat pada tahun yang sama dengan ayahnya, 1570 M setelah sempat memisahkan diri dari Demak. Dalam cerita Banten, ia terkenal dengan nama Anumerna Pangeran Saba Kingking sesuai dengan tempat ia dimakamkan yang tidak jauh dari Banten. Sebagai gantinya ia Maulana Yusuf Panembahan Pangkalan Gede, memerintah antara tahun 1570-1580. selama masa pemerintahannya, ia mendirikan Masjid Agung Banten, membuat perbentengan yang kuat, memperluas perkampungan dan pesawahan, serta mengusahakan irigasi dan bendungan-bendungan. Pada tahun 1579 M, ia berhasil menaklukan Raja Pakuan, benteng terakhir Hindu Jawa Barat. Menurut sejarah Banten, penyerbuan ke Pakuan ini mengikutsertakan para penguasa dan alim ulama. Raja dan keluarganya menghilang, sedangkan golongan bangsawan Sunda masuk Islam. Sesudah selesai menaklukan Pakuan, Sultan Maulana Yusuf mendirikan ibukota baru, Banten Sura Sowan (Sura Saji)


2. Kerajaan Islam di Sumatera

a. Kerajaan Islam Samudera Pasai

Kerajaan Islam Sumadera Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kemunculannya sebagai kerajaan Islam diperkirakan sekitar awal atau pertengahan abad ke-13 M sebagai hasil proses Islamisasi di daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi para pedagang Muslim sejak abad ke-7 M dan seterusnya. Raja pertamanya adalah Malik Al-Saleh.

Dalam Hikayat raja-raja Pasai disebutkan gelar Malik Al-Saleh sebelum menjadi raja adalah Merah Sile atau Merah Selu. Ia masuk Islam berkat pertemuannya dengan Syekh Ismail, seorang utusan Syarif Mekah yang kemudian memberinya gelar Sultan Malik Al-Saleh.

Kerajaan Islam Samudera Pasai berlangsung sampai pada tahun 1524M. pada tahun 1521 M kerajaan ini ditaklukan oleh Portugis yang mendudukinya selama tiga tahun, kemudian tahun 1524 M disebut oleh kerajaan Aceh, dibawah pimpinannya rajanya yaitu Ali Mughayat Syah.

b. Kerajaan Islam Aceh Darussalam
Kerajaan Islam Aceh Darussalam berdiri pada abad ke-15 M. Pendirinya adalah Ali Mughayat Syah. Ia meluaskan wilayahnya ke daerah pidie yang bekerjasama dengan Portugis yang kemudian menaklukan kerajaan Islam Samudera Pasai tahun 1524M

Peletak dasar kebesaran Kerajaan Islam Aceh Darussalam ialah Sultan Alauddin Riayat Syah yang bergelar Al-Aqahar. Dalam menghadapi tentara Portugis, ia bekerjasama dengan Kerajaan Turki Usmani dan negara-negara Islam lainnya di Indonesia.Puncak kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam terjadi pada pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1608-1637M).


c. Kerajaan Islam di Sumatera Selatan

Dibukanya jalur perdagangan melalui Selat Malaka sebagai ganti jalur perdagangan di darat antara Arabia dengan Cina yang dirintis sejak 500 SM membuat daerah-daerah pantai di sepanjang pesisir timur Sumatera menjadi ramai. Seluruh kapal perdagangan yang melewati Selat Malaka perlu singgah untuk mempersiapkan air minum, makanan dan perbekalan lainnya di pantai-pantai tersebut. Dalam hal ini, Sriwijaya yang berpusat di Palembang tampil sebagai pemegang monopoli yang menguasai pantai-pantai di Selat Malaka sehingga Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yang besar dan kuat di Nusantara.

Diketahui bahwa Timur Tengah (Islam) menguasai jalur perdagangan laut ke timur dibanding barat. Dai-dai Islam yang datang bersama tentara Islam dan Sriwijaya. Palembang merupakan daerah yang strategis bagi masuknya Islam ke Sumatera Selatan. Namun demikian, belum bisa dipastikan adanya proses Islamisasi di Sumatera Selatan. Pada masa itu, belum ada bukti adanya orang-orang pribumi yang masuk Islam. Yang jelas, menurut Hasan Muarif Ambary, pada permulaan abad ke-7 di Palembang sudah ada masyarakat muslim yang oleh penguasa kerajaan Sriwijaya telah diterima dengan baik dan dapat menjalankan ibadat menurut agama Islam.

Setelah Majapahit jatuh, kemudian Demak berdiri, Palembang berada di bawah perlindungan Demak. Dengan demikian, Palembang menjadi bagian dari kerajaan Islam, sebagai daerah kekuasaan demak, penguasa demak, Raden Patah, menunjuk Pangeran dari Surabaya (Pangeran Sedo Ing Lautan) sebagai penguasa Demak di Palembang.


d. Kerajaan Islam di Minangkabau

Ada dua teori mengenai masuknya Islam di Minangkabau. Pertama, seperti dikemukakan oleh Hamka bahwa Islam mencapai pedalaman Minangkabau melalui Pantai Timur Sumatera. Kedua, kebanyakan ahli sejarah berpendapat bahwa kegiatan Islamisasi Minangkabau berkaitan dengan penguasaan Aceh atas Pantai Barat Sumatra, seperti Tiku dan Pariaman. Pelabuhan di Pantai Barat Sumatera Barat, sebagai tempat berdagang orang-orang Arab dan Gujarat memainkan peranan penting dalam menyebarkan Islam di pedalaman Minangkabau.

Nuqaib al-attas berpendapat bahwa Islam pertama kali disebarkan ke Pantai Barat Minangkabau pada abad ke-12 oleh Syekh Burhanuddin dari Ulakan, Pariaman. Ia adalah murid Syekh Abdullah Arif, Muslim arab yang menyebarkan Islam ke Sumatera Utara sekitar tahun 1112.

De Graaf mengaitkan Islamisasi di pedalaman Minangkabau dengan peperangan antara aceh dengan penguasa-penguasa Minangkabau. Dilaporkan bahwa salah seorang penguasa Minangkabau telah mengawini putri Pangeran Aceh dan tetap tidak mau masuk Islam. Hal ini menimbulkan perselisihan dengan ayah mertuanya. Akibatnya, ia harus menyerahkan sejumlah besar wilayah Minangkabau. Peristiwa ini terjadi setelah dekade kedua pada abad ke-16. Kepemilikan Aceh atas pantai barat Minangkabau selanjutnya membawa kemajuan bagi kepentingan Islam.

Cepatnya penyebaran Islam di Minangkabau, menurut Christine Dobbin berkaitan erat dengan organisasi persaudaran sufi atau tarekat. Pada ulama tasawuf yang datang ke Minangkabau dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam, mendirikan organisasi tarekat. Pada abad ke-18 di Minangkabau terdapat tiga aliran tarekat yaitu Naqsabandiyah, Syattariyyah, dan Qadiriyyah. Tarekat yang pertama kali masuk ke Minangkabau adalah Naqsabandiyah pada paruh pertama abad ke-17. berikutnya, tarekat Syattariyah dibawah Syekh Burhanuddin pada akhir abad ke-17. tarekat Qadiriyah memasuki Minangkabau pada akhir abad ke-18 semua tarekat mengembangkan organisasi tarekat dengan mendirikan surau. Oleh karena itu, surai disamping sebagai lembaga pendidikan juga sebagai kegiatan tarekat.

Pada akhir tahun 1803/1804, tiga orang penduduk asal Minangkabau pulang ibadah haji dari tanah suci Mekah. Mereka adalah Haji Sumanik, Haji Miskin dan Haji Piobang. Ketika mereka menjalankan ibadah haji, mereka telah menyaksikan serangan orang-orang wahabi ke Mekah atau paling tidak mereka telah mendengarkan ajaran-ajaran Wahabi yang akhir mempengaruhi mereka. Setelah mereka pulang ke Minangkabau mereka membawa semangat baru, kemudian mereka membandingkan kondisi masyarakat Minangkabau dengan ajaran-ajaran Wahabi. Mereka melihat perlu diadakan pembaruan tatanan sosial. Tujuan utama mereka ialah membersihkan masyarakat dari adat buruk yang menyimpang dari ajaran Islam. Menurut mereka, pembaruan sosial harus dilakukan dengan menyebarkan ajaran Wahabi dengan keras.

Pada awalnya, mereka mendapat perlawanan dari masyarakat. Namun lama kelamaan banyak tokoh agama yang tertarik dan mendukung mereka. Tuanku Nan Renceh, murid kesayangan Tuanku Nan Tua yang tidak setuju dengan militansi mereka, bergabung dengan Haji Miskin. Dari sinilah mulai terbentuknya gerakan Padri. Tuanku Nan Renceh kemudian mendapat dukungan dari tujuh tuanku, sebutan bagi orang-orang yang memiliki pengetahuan agama secara mendalam di Agam Sumatera Barat. Karena kekerasan mereka, mereka dikenal denan Harimau Nan Delapan.

3. Kerajaan Islam di Sulawesi
Dalam sumber-sumber sejarah di Sulawesi Selatan, dapat diketahui secara pasti kapan penguasa-penguasa masuk Islam. Hal ini disebabkan oleh Islamisasi yang terlambat. Dilaporkan bahwa awal pada abad ke-17 telah datang ke Sulawesi Selatan Tiga Datuk (Dato Tallua atau Dato’ Tellue) mereka adalah Dato ‘ri Bandang, nama aslinya Abdul Makmur. Dato ‘r Pattimang alias Sulaiman dan Dato ‘ri Tiro alias Abdul Jawad. Tempat yang pertama mereka tuju ialah Luwu’. Mereka mengajak penguasa luwu La Patiware untuk masuk Islam. Ajakan mereka disambut baik oleh Raja Luwu La Patiware Daeng Parabung yang mengucapkan syahadat pada tanggal 15 atau 16 Ramadhan 1013 H / Pebruari 1605. Namanya kemudian diganti menjadi Sultan Muhammad. Selanjutnya, tiga Datuk berangkat menuju kerajaan kembar Gowa Tallo, yang dikenal dengan Makassar atau Ujung Pandang. Gowa Tallo merupakan kerajaan terkuat di Sulawesi Selatan pada waktu itu. Karena dakwah mereka, I Mallingkaang Daeng Manyonri Karaeng Katangka, penguasa Tallo dan perdana menteri Gowa, masuk Islam dengan diikuti beberapa anggota keluarganya. Ia melafazkan kalimat syahadat pada hari Jum’at tanggal 9 Jumadil Awal 1014 H / 22 September 1605 kemudian ia memakai nama Islam, Sultan Abdullah. Setelah masuk Islam. Ia mengajak penguasa muda Gowa yang juga kemenakannya. I Manga’rang Daeng Manrabbia untuk masuk Islam.

Dua tahun setelah Islamnya Sultan Abdullah diadakan salat Jum’at pertama di Masjid Tallo pada hari Jum’at 19 Rajab 1016H / 10 Nopember 1607. Salat Jum’at tersebut diikuti oleh sejumlah besar penduduk yang sebelumnya telah bersepakat masuk Islam. Dengan demikian, Makassar secara resmi menjadi kerajaan Muslim.


4. Kerajaan Islam di Kalimantan

Sebelum kedatangan para pedagang Arab, pedagang-pedagang Melayu dan perompak-perompak tertarik untuk menetap di Kalimantan, tujuan mereka adalah untuk mendulang emas dan berlian. Mereka kemudian mendirikan kota-kota di muara sungai. Pada perkembangan berikutjya, mereka tersebut sampai ke hulu. Selanjutnya mereka hidup mapan disana. Ketika para pendakwah sekaligus sebagai pedagang dari Arab datang ke Kalimantan mereka memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat setempat dan mengajak untuk memeluk Islam. Berikutnya, penyebaran Islam dilakukan oleh para dai dari Sumatra, Jawa dan dari daerah lainnya.

Di Kalimantan pelabuhan yang terkenal adalah Brunei. Oleh karena itu seluruh pulau itu dikenal dengan nama Brunei atau Borneo bagi orang-orang Portugis.
Penyebaran Islam di Kalimantan Selatan banyak dilakukan oleh orang-orang Jawa. Jauh sebelum mencapai daerah ini, orang-orang Jawa berlayar kemudian menetap di Kalimantan Selatan.

Penyebaran Islam di Kalimantan banyak dilakukan oleh para mubalig dari Jawa. Hal ini bisa terjadi karena hubungan masyarakat antara dua kepulauan sudah terjalin sejak masa pemerintahan Majapahit dengan Kerajaan Kutai. Oleh karena itu para mubalig pada masa berikutnya hanya melanjutkan hubungan telah terjalin cukup lama. Diantara mubalig yang datang ke Kalimantan adalah Khatib Dayyan serta mubalig dari Banjar yaitu Muhammad Arsyad Al Banjari yang menegakkan tonggak ajaran Islam di Kalimantan pada abad ke-18 M.
[berbagai sumber]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Copyright by Perdetik Blog