Kamis, 26 November 2009

Seni Budaya Lokal Sebagai Bagian Ari Tradisi Islam

1. Pengertian Seni Budaya Lokal
a. Pengertian Seni
Seni adalah penggunaan imajinasi manusia secara kreatif untuk menikmati kehidupan. Oleh karena itu, bentuk kesenian dapat muncul melalui benda-benda yang digunakan sehari-hari, serta dapat pula melalui benda-benda khusus yang hanya digunakan untuk kepentingan tertentu seperti ritual atau upacara. Seni dalam segala perwujudannya merupakan (salah satu) ekspresi proses kebudayaan manusia, sekaligus pencerminan dari peradaban suatu masyarakat atau bangsa pada suatu kurun waktu tertentu.

b. Pengertian Budaya Lokal dan Ciri-cirinya
Budaya lokal adalah budaya asli suatu kelompok masyarakat tertentu menurut JW. Ajawalia, budaya loial adalah ciri khas budaya sebuah kelompok masyarakat lokal. Misalnya budaya masyarakat pedalaman Sunda (Baduy) Budaya Nyangku di Panjalu Ciamis, budaya Seren Taun di Cicadas dan lain-lain
Ciri khas budaya tersebut merupakan kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun, meskipun ditengah-tengah perkembangannya mengalami perubahan nilai, perubahan dimaksud diakibatkan beberapa hal, misalnya percepatan migrasi dan penyebaran media komunikasi secara global sehingga tidak ada budaya lokal suatu kelompok masyarakat yang masih sedekimian asli atau karena masyarakat sudah tidak memperhatikan lagi pada budaya lokal tersebut.

2. Seni Budaya Pra Islam
Produk seni budaya pra-Islam di Nusantara dapat dibedakan dalam kategori kurun waktu, yakni seni budaya yang berasal dari masa prasejarah, masa kontak dengan tradisi besar Hindu dan seni Budaya etnik lokal yang masih ada sampai sekarang, yang diasumsikan berakar jauh ke masa lampau.

Dari kurun prasejarah, kehidupan seni budaya ditandai oleh pendirian monumen-monumen seremonial, baik berukuran kecil, sedang, maupun besar, yakni berupa peninggalan yang dibuat dari susunan batu. Salah satu rekayasa arsitektur yang dianggap berasal dari tradisi megalit atau prasejarah adalah pendirian bangunan yang umum disebut dengan teras berundak (teras piramida) seperti terdapat di Gunung Padang (Cianjur, Sukabumi), Cibalay dan Kramat Kasang (Ciampea, Bogor). Peninggalan sejenis ini ditemukan di berbagai pelosok Nusantara. Bangunan teras berundak berasosiasi dengan satu atau beberapa jenis unsur megalit lainnya, seperti menhir, arca batu, altar batu, batu lumpang, dakon batu, pelinggih batu, tembok batu, jalanan berbatu, dolmen dan lain-lain. Beberapa batu dari bangunan teras berundah itu diukur dipahat dengan unsur dekoratif tertentu, seperti pola-pola geometris, pola binatang dan lain-lain seperti yang terdapat Pugungraharjo (Lampung) dan Terjan (Rembang).

Seni Utama dunia Islam, kaligrafi, mozaik, dan arabesk sampai di Nusantara sebagai unsur seni baru. Dengan kepiawaian para seniman Nusantara. Pada seni pahat juga tampak variasi dan pembauran antara anasir-anasir asing dan lokal, termasuk pra Islam. Ini tampak pada hasil seni pahat makam dengan kandungan kreativitas lokal (Barus, Limapuluh Kota, Binamu), Hindu (Troloyo, Gresik, Airmata dan Astatinggi) dan asing (Pasai, Aceh, Ternate Tidore) secara tipologis, nisan-nisan makam muslim Nusantara memperlihatkan tipe-tipe Aceh, Demak Troloyo, Bugis Makassar, dan tipe-tipe lokal.


3. Islam dan Seni Budaya Lokal

Dalam penyebaran agama Islam di Indonesia, kedudukan seni dan budaya mempunyai peran yang cukup penting di dalamnya. Berkaitan dengan itu, maka tidak anek para ulama zaman dulu begitu luas pengetahuannya. Ia tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu seni dan budaya. Dalam hal ini, kehidupan sastra di dunia pesantren bukan merupakan barang baru. Dibacakannya Kasidah Barzanji yang berkisah tentang keagungan Nabi Muhammad Saw merupakan salah satu dari sekian karya sastra yang ditulis kalangan ulama pada zamannya.

Hubungan Islam dengan seni dapat pula dilihat dari teks-teks klasik yang dikaji secara mendalam. Misalnya di dunia pesantren tradisional, kisah-kisah tentang para nabi dan para sahabatnya, pelajaran tentang haram, halal dan keimanan, dilantunkan dalam nadoman. Lirik-lirik nadoman itu sendiri ditulis dalam bentuk puisi.

Wali-wali seperti Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Drajat, dan Sunan Kalijaga berperan besar dalam mengembangkan seni dan kebudayaan Jawa yang bernapaskan Islam. Mereka mampu mentransformasikan bentuk-bentuk seni warisan Hindu menjadi bentuk-bentuk seni baru bermuatan Islam. Sunan Bonang dan Sunan Gunung Jati sebagai contoh adalah perintis penulisan puisi suluk atau tasawuf, yang pengaruhnya besar bagi perkembangan sastra.

Begitu pula sebenarnya cukup banyak karya seni yang dihasilkan para seniman muslim modern sejak zaman Hamka sampai kini, khususnya dalam sastra, seni rupa, musik, seni suara dan teater yang bernapaskan Islam.

Perlu dikemukakan bahwa sebelum orang Islam datang ke Indonesia, mereka telah mengenal berbagai ragam hias Arabesk yang kaya melalui kain, perabot rumah tangga, bagian-bagian kapal yang dihiasi dan lain-lain. Pengkayaan motif yang bersifat lokal juga didorong oleh wawasan bahwa “ayat-ayat Tuhan terbentang dalam alam dan diri manusia” jadi tidak terbatas alam yang ada di negeri Arab atau Persia dan tak terbatas diri manusia orang Arab dan Persia. Ingatlah Hamzah Fansuri berkata, Hamzah Fansuri orang uryani seperti Ismail jadi qurbani bukannya Arabi lagi ajami sentiasa wasil dengan yang baqi.


4. Integrasi Islam dalam Budaya Lokal
Islam di kawasan Kepulauan Nusantara sesungguhnya telah berkembang dengan pesat karena melalui proses akulturasi budaya lokal. Integrasi pemikiran Islam selalu disesuaikan dengan kekhasan budaya lokal. Dalam konteks ini, dakwah Islamiyah selalu melihat lingkungan sosial budaya dengan kacamata kearifan, kemampuan adaptasi ini merupakan kecerdasan sosial, intelektual, dan spiritual yang dimiliki oleh para ulama dahulu yang bertugas menyebarkan agama Islam.

Bukti-bukti seni budaya Islam Nusantara telah merefleksikan bagaimana Islam sebagai ajaran samawi dan pranata keagamaan, disebarkan dan disosialisasikan di Nusantara. Sosialisasi tersebut telah menggunakan cara-cara damai dan memanfaatkan sumber daya kultur lokal sebagai media komunikasi yang efektif.

Dibawah ini akan diketengahkan beberapa contoh penyebaran Islam di Nusantara dalam kaitannya dengan budaya lokal.


a. Jejak Islam di Majapahit

Keberadaan Islam di Majapahir dapat dilacak dari adanya makam Islam di sejumlah tempat di Situs Trowulan. Diantaranya puluhan nisan batu kuno di pemakaman Tralaya (Troloyo). Tralaya terletak di Dusun Sidodadi, Desa Sentonoreja, Trowulan, Mojokerto. Tralaya hanya 2 km arah selatan Desa Trowulan pusat petilasan Kotaraja (ibu kota) kerajaan Majapahit, atau sekitar 15 Km arah barat daya ibu kota Kabupaten Mojokerto.

Peninggalan lain berupa kidung sunda yang mengisahkan kedatangan pasukan Sunda yang mengantar calon pengantin putri untuk Raja Hayam Wuruk. Pasukan terdiri atas 300 punggawa dipimpin oleh empat orang perwira. Pasukan ini, masuk ibu kota Majapahit, berjalan ke arah selatan hingga Masjid Agung di Palawiyan. Pasukan Majapahit yang hendak menerima kedatangan pasukan pengiring pengantin menunggu di Masjid Agung.

Dakwah Islam di tanah Majapahir semakin berkembang, setelah syekh Jumadil Kubro terlibat secara langsung dalam mengatasi perang Saudara yang membawa perpecahan Majapahit. Perang saudara berlangsung selama 3 tahun, antara tahun 1403 hingga 1406 M yang kemudian dikenal dengan nama Paragreg.

Berdasarkan usulan itu, khalifah menunjuk sembilan ulama dan membagi tugas menjadi tiga bagian di pulau Jawa. Masing-masing bagian, terdiri atas tiga ulama dengan berbagai keahlian. Sembilan orang kemudian terkenal dengan Walisongo.


b. Islam dan Pembentukan Budaya Banten

Budaya Banten bisa diidentifikasi degan menelusuri produk-produk kesusastraan seperti naskah-naskah, babad atau buku-buku keagamaan berbagai cerita rakyat yang masih hidup dalam ingatan masyarakat yang dituturkan oleh kelompok suku di Banten dan Warisan Budaya Material (cultural heritage) dalam pengertian yang luas. Yang termasuk dalam kategori terakhir ini adalah karya-karya arsitektur, teknologi, kesenian dan sebagainya.

Dilihat dari segi demografi, Banten menunjuk pada aglomerasi etnisitas yaitu (1) subetnik Banten Pesisiran yang membentang sepanjan pesisir utara Jawa Barat mulai daerah Tangerang di sebelah utara, yang berbatasan dengan Subetnik Betawa, sampai Anyer-Cilegon di sebelah selatan barat dan (2) subetnik Banten-Sunda yang wilayah huniannya mulai dari Serang Selatan (Banten Girang) sampai ke pedalaman selatan berbatasan dengan Samudra India.

Di luar Subetnik Baduy, kedua subetnik diatas (Banten Pesisiran dan Banten Sunda) sudah mengalami proses Islamisasi yang intensif yang akhirnya bermuara pada kuatnya unsur Islam pada budaya yang dikenal secara stereotipe sebagai budaya Banten. Hal yang menarik adalah perbedaan bahasa yang dipakai kedua kelompok itu. Kelompok Banten berbahasa Sunda yang arkais (khas Banten)

Di balik semua kilas balik sejarah ini, hal yang tetap hidup dan terus mengakar pada masyarakat Banten adalah kultur Islam. Pesantren terus menerus menghasilkan kader dan para ulama tetap berdakwah. Rakyat mulai mengarahkan orientasi kepemimpinan dari raja/sultan kepada para ulama /mubalig kiai. Dalam situasi seperti ini, yang bermulai dari sejak pertumbuhan Islam di Banten (kecuali daerah Baduy) terus menerus memantapkan keislamannya. Warisan budaya yang dihasilkan adalah karya-karya arsitektur yang hanya mungkin diproduksi dalam satu lingkaran kehidupan yang tinggi. Oleh karena itu, dari segi Budaya Banten dapat disetarakan dengan masyarakat kota seperti Mataram dan Cirebon.

Budaya dan masyarakat Banten memang pernah diluluhlantakkan kolonialisme Belanda dan fasisme Jepang. Pada beberapa fase sejarah, rakyat yang dipimpin para kiai/ ulama melakukan unjuk rasa dalam bentuk pergolakan atau perlawanan berskala kecil, terbatas, berjangka pendek dan mudah dieliminir. Radikalisme petani yang berlangsung di wilayah pedesaan Banten antara lain muncul akibat transformasi sosial menyusul praktik-praktik pengubahan tata guna lahan, yang kemudian dikuasai oleh pemerintah kolonial dan kelompok swasta besar. Jalannya transformasi tersebut sering kali dipaksakan dengan mengabaikan dan menghapuskan hak-hak tradisional komunitas atas lahan dan pola-pola penggarapan mereka.


c. Peradaban Islam Sunda

Beberapa unsur peradaban yang diperkenalkan Islam kepada masyarakat Sunda dapat kita ketahui dari Babad Banten dan Babad Cirebon, khususnya menyangkut kasus pembangunan dan pengembangan kota dan sistem pemerintahan. Dua kota tersebut (Banten dan Cirebon) pada masa pra-Islam masih merupakan dua desa nelayan yang sangat tidak berarti. Namun setelah dibangun oleh kedua Raja Islam, Cirebon dan Banten berkembang menjadi metropolitan. Sebuah orientasi baru yang dipelopori oleh para Sultan Cirebon dan Banten ialah mengubah peranan kota pelabuhan yang tidak berarti menjadi pusat perdagangan yang besar.

Babad Banten memberikan contoh usaha pembangunan kota yang dirintis oleh Hasanudin dan Maulana Yusuf untuk ibu kota Kerajaan Banten, yakni Surosowan yang sekaligus berfungsi sebagai pusat perkembangan Islam. Dalam Babad Banten disebutkan, Maulana Yusuf mempunyai tenaga jasmani yang besar. Ia membangun sebuah kubu pertahanan (game kuta baluwarti bata kalawan kawis), membuat kampung-kampung, sawah-ladang, terusan dan bendungan. Keraton dibangun dan dikembangkan. Babad Banten mencatat bahwa masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa keraton dikelilingi tembok, setelah pintu gerbang terdapat bangunan sebagai berikut, Made Bahan adalah tempat wong Tembok Baya (pengawal keamanan) melakukan jaga, Made mundu dan Made Gayam, ada Siti Luhur (Siti Inggil) tempat raja menerima tamu resmi dan melakukan upacara kerajaan, setelah bangunan Srimanganti terdapat Waringin kurung dan Watugilang.


d. Islam dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

Masyarakat tradisional memerlukan dan menciptakan berbagai mitos. Mitos berfungsi baik sebagai upaya legitimasi terhadap keadaan berkesinambungan yang tidak berubah (Status quo) dan mungkin pula sebagai apologi kegagalan mereka mencapai keadaan yang dicita-citakan. Anggapan terakhir ini muncul akibat penggunaan persepsi luar yang berbeda dengan apa yang sebenarnya dianut dan dihayati masyarakat itu sendiri. Apabila persepsi diterapkan dalam wawasan yang cukup adil, tentunya para pengamat luar akan memperoleh berbagai aspek positif dari berbagai mitos yang masih kuat berakar dalam beberapa kelompok masyarakat tradisional. Mitos pada dasarnya merupakan media yang mengakomodasikan harapan dan kenyataan sekaligus sebagai pengatur perilaku masyarakat dan anggotanya.

Orang Jawa sebagian besar adalah para petani pedesaan (rural peasant). Mereka sangat terikat dan tergantung pada lingkungan alam di mana mereka hidup secara utuh. Keterkaitan dan ketergantungan ini dalam banyak hal mempengaruhi secara kuat perikehidupannya, termasuk prinsip-prinsip hidup dalam mengelola alam, mencapai harapan, memelihara keseimbangan dan sebagainya. Hal tersebut tidak harus diartikan bahwa mereka menolak atau apriori terhadap perubahan atau masuknya nilai-nilai baru. Mereka toleran terhadap apapun yang memasuki diri dan masyarakatnya.


1. Banyak Anak Banyak Rezeki

Mitos ini menggambarkan orang Jawa yang sebagian besar adalah petani pedesaan dan cara menafsirkan serta penyusunan strategi pengelolaan lahan pertanian. Pertanian tradisional memerlukan tenaga kerja yang besar, baik tenaga manusia maupun hewan. Anak dianggap sebagai tenaga kerja yang bernilai tinggi, yang akan turut meningkatkan produktivitas keluarga dan pada akhirnya ekonomi keluarga. Banyak anak bukan merupakan aib keluarga, karena jumlah penduduk pada masa lampau belum merupakan tekanan yang berarti. Kalaupun terjadi tekanan kependudukan pada skala keluarga atau desa, tanah dan hutan masih luas untuk dimanfaatkan.


2. Makan atau Tidak yang penting Kumpul

Mitos tersebut merupakan alih bahasa Jawa yang berbunyi mangan ora mangan pokoke ngumpul. Mitos ini pada masa lalu menggambarkan tingkat kuatnya ikatan kekerabatan Jawa dan kuatnya keterkaitan mereka terhadap tanah kelahiran tempat mereka hidup, beranak pinak dan memperoleh makan. Ikatan batin terhadap tanah kelahiran dan tanah garapan demikian kuat dan tercermin dalam berbagai ritus, sehingga menjadi sakral. Tanah dan keluarga juga merupakan kehormatan dan harga diri. Pembelaan habis-habisan untuk itu digambarkan dengan pemeo, sedumuk bathuk sanyari bhumi.


3. Ratu Adil

Meskipun dalam banyak segi, budaya Jawa bukan tidak mengenal konflik, baik secara terbuka maupun tertutup. Ketika berada pada posisi lebih lemah khususnya pada saat berkembangnya Islam sampai masuknya pengaruh Barat, masyarakat Jawa mengalami situasi konflik dan protes yang diubah dalam bentuk harapan akan datangnya ratu adil. Di kalangan Muslim modernis, mitos-mitos ratu adil sangat dikenal, seperti Al-Mahdi, Tjokro dan Dahlan yang mengharapkan kepemimpinan yang baik. Tjokro dan Dahlan dianggap sebagai figur perubahan sikap mental. Ratu adil adalah mitos yang dianggap tidak bakal punah, paralel dnegan tidak pernah menjadi dambaan dan keadilan. Oleh karena itu, mitos ratu adil akan selalu menjadi dambaan dan harapan.


4. Kharisma Kiai

Salah satu yang paling membantu dalam perubahan dan pembentukan sikap adalah kharisma. Sekarang ini dikenal adanya dua macam kharisma yaitu kharisma pemimpin formal dan kharisma pemimpin nonformal antara lain kiai. Pemimpin formal bermacam-macam seperti pemimpin sipil ABRI dan sebagainya. Sementara peranan kiai pada prinsipnya tidak mengalami persoalan di tengah-tengah masyarakat, bahkan melalui kharisma kiai masyarakat akan tunduk dan patuh.


e. Kebudayaan Islam – Aceh

Pengamatan terhadap bukti-bukti arkeologi di Aceh menunjukkan bukti kuat bahwa budaya masyarakat wilayah tersebut luas di banyak wilayah di Indonesia. Salah satu bukti penting dari hal tersebut adalah ditemukannya batu nisan Aceh di beberapa wilayah di Indonesia. Menarik diperhatikan meski agak sedikit unik bahwa temuan batu nisan yang ada luar Aceh disebut sebagai “Batu Aceh” atau “Nisah Aceh” tidak diidentifikasikan berasal dari daerah mana batu nisan tersebut ditemukan. Hal ini barangkali karena penyebaran batu nisan tersebut ditemukan. hal ini disebabkan penyebaran batu nisan Aceh merupakan salah satu bentuk budaya, dimana kemajuan kebudayaan Aceh telah diserap kelompok masyarakat non Aceh.

Bentuk Nisan Aceh
Nisan merupakan salah satu bagian atribut pemakaman Islam. Dalam sistem pemakaman ini, aspek penting yang menjadi perhatian utama kajian arkeologis adalah bentuk dan arsitektur makam.
Sebuah makam Islam terdiri atas unsur-unsur berikut “lahad” yakni lubang dalam tanah untuk menempatkan jenazah, dimana diatasnya setelah ditutup rata dengan tanah terdapat bangunan makam yang terdiri atas “jirat” (Subasmen makam) dan “nisan” yang berfungsi sebagai tanda. Hal yang disebut terakhir ini ditempatkan di bagian kepala dan kadang-kadang yang lebih lengkap juga dibagian kaki. Letak makam Islam mengarah utara-selatan dengan kemiringan tertentu yang mengarah ke barat laut. Kepala diletakkan di bagian utara. Makam-makam tertentu, selain jirat dan nisan, juga memiliki “cungkup” yakni bangunan untuk melindungi makam.

a) Bentuk gabungan sayap bucrane
Bentuk gabungan ini dimaksudkan sebagai bentuk hiasan yang memperlihatkan ciri-ciri pola hiasnya bentuk bucran, yaitu bentuk tanduk kerbau, baik yang tampak nyata maupun telah digayakan.

Pada bagian sisi luar dari bucrane biasanya pada puncak nisan terdapat hiasan sayap. Pola hias nisan banyak yang berbentuk tanduk dan sayap. Pada masyarakat tradisional, selain pada makam-makam, bentuk hiasan sayap dan tanduk atau kepala kerbau banyak terdapat pada bangunan-bangunan rumah dan bangunan-bangunan sakral. Hal itu sangat mungkin berkaitan dengan kepercayaan masyarakat tradisional pra-Islam, seperti ditunjukkan upacara kematian pada masyarakat Toraja. Upacara ini ditandai dengan pemotongan kerbau sebagai “binatang suci” pengantar arwah.

b) Bentuk Persegi Panjang dengan Hiasan Kepala Kerbau
Bentuk seperti ini pada dasarnya rectanguler yang pada bagian puncaknya terdapat hiasan yang menjadi makhkota dari nisan tersebut, serta berbentuk bucrane (kepala kerbau) yang sudah distilir (digayakan). Secara keseluruhan, bentuk tersebut hampir menyerupai sebuah miniatur candi. Bidang tengah yang merupakan bagian badan nisan berbentuk empat persegi. Bidang ini dipakai untuk tulisan Arab yang disusun dalam beberapa baris secara kaligrafis. Bidang yang memuat lukisan itu selanjutnya dibagi ke dalam dua atau tiga susun, dimana tiap susun dibatasi sebuah garis. Bagian puncak badan nisan inilah yang paling kaya akan hiasan.

c) Bentuk Bundar (Silindrik)
Maesan yang berbentuk bundar merupakan bentuk nisan yang paling banyak jumlahnya, tidak hanya pada makam-makam kuno, tetapi juga di berbagai tempat di Indonesia. Nisan yang berbentuk bundar ini memberikan akar pola bentuk yang telah ada dalam arsitektur pra-Islam, yakni bentuk lingga (masa Hindu) dan bentuk Menhir (masa tradisi Megalitik), yang banyak mengalami perkembangan ialah variasi bentuk nisanya, khususnya bentuk pada kaki, badan dan puncak nisan. Salah satu nisan Aceh berbentuk bundar yang dapat ditandai pertanggalannya ialah nisan Sultan Ibrahim Mansyur Shah yang wafat tahun 1740 M, makam itu terletak di Kompleks BAPERIS Banda Aceh.

5. Seni Budaya Lokal Sebagai Bagian dari Tradisi Islam
Untuk strategi pengembangan Islam di Indonesia, kita perlu mempunyai visi ke depan. Karena budaya menyentuh seluruh aspek dan cara pandang sikap hidup serta aktualisasinya dalam kehidupan manusia.

Jika demikian jelaslah perjalanan sejarah hubungan antara Islam sebagai agama dan budaya lokal yang melingkupinya serta adanya landasan hukum.

Tradisi Islam Nusantara ini akan tetap terjaga ketika terjadi gerakan sosial dalam diri NU yang berorientasi pada jam’iyah (organisasi) dan jamaah (umat/warga). Jika Jam’iyyah tidak dikelola dan jamaah tidak dirawat dengan baik, maka potensi melompatnya jamaah tak terhindarkan dan sistem keorganisasian akan semakin rapuh. Karena itulah, tradisi Islam Nusantara dalam kerangka fikrah nahdliyyah akan memberi sumbangan paling berharga dalam bagi corak Islam Indonesia. Sebab, Islam keindonesiaan tidak akan berdiri kokoh selama tradisi islam Nusantara rapuh, bahkan punah digantikan oleh tradisi Islam Arab yang dibawa oleh kelompok-kelompok Islam trannasional. Inilah pentingnya NU membangun dan meneguhkan tradisi Islam Nusantara yang telah diwariskan para ulama terdahulu.

6. Pandangan Islam terhadap Budaya Lokal
Islam adalah agama yang berkarakteristik universal dengan pandangan hidup mengenai persamaan, keadilan, takaful, kebebasan dan kehormatan serta memiliki konsep yang humanistik (kemanusiaan) sebagai nilai inti (core value) dari seluruh ajaran Islam
Pada saat yang sama, dalam menerjemahkan konsep-konsep ajaran agama ke bumi, Islam mempunyai karakter dinamis, elastis dan akomodatif dengan budaya lokal, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam itu sendiri. Permasalahannya terletak pada tata cara dan teknis pelaksaan.

Dengan fakta ini, terbukti bahwa Islam tidak anti budaya. Semua unsur budaya dapat disesuaikan dalam Islam. Pengaruh arsitektur India sangat jelas terlihat dalam bangunan-bangunan masjidnya, demikian juga pengaruh arsitektur khas mediterania. Budaya Islam memiliki begitu banyak variasi.

Padahal jika diteliti lebih jauh, kandungan Al-Qur’an sendiri menggambarkan adanya akomodasi terhadap budaya lokal (arab). Response Al-Qur’an bermuara pada dua kemungkinan, yakni mengkritik dan menginformasi budaya lokal tersebut. Kritik dilakukan sepanjang budaya tersebut menistakan kehormatan manusia. Konfirmasi diberikan pada budaya yang sejalan dengan cita-cita kemanusiaan. Dalam hal ini Imam Syatibi merumuskan secara sistematis dalam maqoshid Al-Syariah (tujuan syariat) diantaranya menjaga dan memelihara kepentingan dan kemaslahatan manusia dan syariat agama diberlakukan untuk dipahami dan dihayati manusia. Jadi hubungan agama dan budaya terjadi dalam bentuk kritik dan mendukung. Tidak semua budaya ditolak lantaran berasal dari kreasi manusia.

7. Melestarikan Seni Budaya Lokal
Tak dapat dipungkiri bahwa faktor kemajuan peradaban dunia sebagai bentuk kemajuan berpikir umat manusia, tak salah apabila disebut bahwa umat manusia dewasa ini telah dihadapkan pada situasi yang serba maju dan pemikiran yang kritis. Kemajuan itu banyak mengakibatkan perubahan di segala bidang kehidupan individu, keluarga, masyarakat, bernegara, maupun, berbangsa.

Dulu jika ada orang menabuh lesung, semua warga langsung berbondong-bondong menuju sumber suara tersebut. Dan mereka dengan sendirinya akan bergantian untuk menabuh lesung. Sementara warga yang tidka memukul lesung, langsung bergabung dengan rekan-rekan yang lainya untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat.

Budaya lokal, menyimpan banyak pesan, yang sudah tentu mudah dicerna dan dipahami. Dan pesan-pesan yang disampaikan itu juga, membuat para warga saling mengerti, memahami, dan taat kepada norma-normat, baik norma adat maupun norma agama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Copyright by Perdetik Blog