Kamis, 26 November 2009

C. Para Tokoh Dan Perannya Dalam Perkembangan Islam Di Indonesia

1. Walisongo (Wali Sembilan
Di kalangan masyarakat Islam Jawa, banyak orang mempercayai bahwa wali yang menyebarkan Islam di Jawa berjumlah sembilan orang, sesuai dengan kata “songo”. Sebenarnya jumlah mereka tidak tepat sembilan, tetapi lebih. Namun lebih dikenal adalah sembilan wali (wali songo)


a. Sunan Gresik (Malik Ibrahim, Maulana)

Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Magribi yang dalam babad Jawa disebut Makdum Brahim Asmara.
Beliau adalah saudara Maulana Ishak dengan memperistri putri Campa dan melahirkan dua orang putra, yaitu Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Syaid Aki Murtadha atau Raden Santri. Beliau adalah putra dari Raden Jumadil Qubro.

Maulana Malik Ibrahim datang ke Jawa tahun 1404 M yang menurut Babad Tanah Jawi bukan datang dari Campa, tetapi menurut namanya beliau berasal dari Samarkandi di Asia Kecil. Pernyataan dari Babad Tanah Jawi tidak bertentangan, sebab dari Asia Kecil beliau bermukim dulu di Campa.

Maulana Malik Ibrahim menyebarkan agama Islam dengan cara melayani kebutuhan sehari-hari masyarakat yang diajaknya. Beliau dakwah dengan diplomasi yang ulung, tidak menyinggung perasaan orang yang didakwahnya, bahkan membesarkan hati. Hal tersebut menunjukkan betapa tinggi ilmu yang dimiliki oleh syekh Maulana Malik Ibrahim. Hal ini dapat diketahui dalam kisah-kisah yang pernah dialaminya, misalnya dalam kisah tentang Kepala perampok. Maulana Malik Ibrahim tidak turun sendiri dalam menghadapinya, tetapi murid-muridnya saja dapat mengalahkan kepala perampok. Maka, dapat disimpulkan betapa saktinya dia

Maulana Malik Ibrahim wafat tahun 1419 M dan dimakamkan di Gresik pada nisanya terdapat tulisan Arab yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang penyebar agama yang cakap dan gigih. Dalam bahasa Indonesia tulisan itu berbunyi :”inilah makam almarhum almagfur yang berharap rahmat Tuhan, kebanggaan para pangeran, sendi pada sultan dan para menteri, penolong para fakir miskin, yang berbahagia dan syahid cemerlangnya simbol negara dan agama” Maulana malik ibrahim terkenal dengan nama Kake Bantal.


b. Sunan Ampel (Campa Aceh, 1401- Ampel, Surabaya 1481 M)

Nama aslinya Raden Rahmat. Ia adalah putra Maulana Malik Ibrahim dari istrinya bernama Dewi Candrawulan.
Sunan Ampel adalah penerus cita-cita serta perjuangan Maulana Malik Ibrahim dan terkenal sebagai perencana pertama kerajaan Islam di Jawa; ia memulai aktivitasnya dengan mendirikan pesantren di Ampel Denta, dekat Surabaya, sehingga ia dikenal sebagai pembina pondok pesantren pertama di Jawa Timur. Di pesantren inilah Sunan Ampel mendidik para pemuda Islam untuk menjadi tenaga da’i yang akan disebar ke seluruh Jawa. Diantara pemuda yang dididik itu tercatat antara lain Raden Paku yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Giri, Raden yang kemudian menjadi sultan pertama kesultanan Islam di Bintoro, demak, Raden Makdum Ibrahim (Putra Sunan Ampel sendiri) yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Bonang Syaridudin yang kemudian dikenal dengan Sunan Drajat, Maulana Ishak yang pernah diutus ke daerah blambangan untuk mengislamkan rakyat di sana dan banyak lagi mubalig yang mempunyai andil besar dalam Islamisasi Pulau Jawa.

Sunan Ampel tercatat sebagai perancang Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa dengan ibu kota di Bintoro, Demak. Dialah yang mengangkat Raden Fatah sebagai sultan pertama Demak, yang dipandang punya jasa paling besar dalam meletakkan peran politik umat Islam di Nusantara. Disamping itu Sunan Ampel juga ikut mendirikan Masjid Agung Demak pada tahun 1479 bersama wali-wali yang lain. Ketika mendirikan Masjid tersebut, para wali mengadakan pembagian tugas. Sunan Ampel diserahi tugas memuat salah satu dari saka guru (tiang kayu raksasa) yang kemudian dipasang di bagian tenggara. Tiga tiang besar yang lain dikerjakan oleh Sunan Kalijaga untuk tiang sebelah timur laut (bukan berupa tiang utuh, tetapi berupa beberapa balok yang diikat menjadi satu yang disebut “saka tatal”) Sunan Bonang untuk tiang sebelah barat timur, Sunan Gunung Jati untuk tiang sebelah barat daya, sementara bagian-bagian lain masjid dikerjakan oleh para wali yang lain


c. Sunan Bonang (Ampel Denta, Surabaya 1465 – Tuban 1525)

Dianggap sebagai pencipta gending pertama dalam rangka mengembangkan ajaran Islam di pesisir utara Jawa Timur. Ia adalah putra Raden Rahmat dari perkawinannya dengan Dewi Candrawati dan merupakan Saudara sepupuh Sunan Kalijaga. Ia terkenal dengan nama Raden Maulana Makhdum Ibrahim atau Raden Ibrahim (Makhdum adalah gelar yang biasa diberikan kepada seorang ulama besar di India dan berarti orang yang dihormati). Dari perkawinannya dengan Dewi Hiroh ia memperoleh seorang putri bernama Dewi Rukhil yang kemudian diperistri Sunan Kudus. Setelah belajar Islam di Pasai, Aceh Sunan Bonang kembali ke Tuhan, Jawa Timur untuk mendirikan pondok pesantren. Santri-santri yang menjadi muridnya berdatangan dari berbagai daerah. Setelah sunan Ampel wafat, pesantren yang ditinggalkannya tidak lagi mempunyai pemimpin resmi. Maka untuk mengisi kekosongan itu, Sunan Bonang memprakarsai musyawarah para wali untuk membicarakan siapa yang akan memimpin pesantren tersebut. Hasil musyawarah wali memutuskan untuk mengangkat Raden Fatah menjadi pengganti almarhum Sunan Ampel.

Sunan Bonang memberikan pendidikan Islam secara mendalam kepada Raden Fatah, putra raja Majapahit Prabu Brawijaya V yang kemudian menjadi sultan pertama Demak. Catatan-catatan pendidikan tersebut kini dikenal dengan “Suluk Sunan Bonang” atau “Primbon Sunan Bonang” Isi buku tersebut berbentuk prosa ala Jawa Tengah, kalimatnya sangat banyak dipengaruhi bahasa Arab, dan sampai sekarang masih tersimpan di Universitas Leiden Negeri Belanda.


d. Sunan Giri (Blambangan, Pertengahan abad Ke-15 – Giri 1500 M)

Nama aslinya Raden Paku, disebut juga Prabu Satmata dan kadang-kadang disebut Sultan Abdul Fakih. Ia adalah putra dari Maulana Ishak yang ditugaskan Sunan Ampel untuk mengembangkan agama Islam di Blambangan. Salah seorang saudaranya juga termasuk Walisongo, yaitu Raden Fatah (Sunan Gunung Jati) dan ia mempunyai hubungan keluarga dengan Raden Fatah karena istri mereka bersaudara.

Ketika usianya beranjak dewasa, Raden Paku belajar agama di Pondok Pesantren Ampel Denta (pimpinan Sunan Ampel) dan disana bertema baik degan Raden Maulana Makdum Ibrahim, putra Sunan Ampel yang kemudian terkenal dengan Sunan Bonang. Dalam suatu perjalanan ibadah haji menuju Mekah, kedua santri ini lebih dahulu memperdalam pengetahuan di Pasai yang ketika itu menjadi tempat berkembangnya ilmu ketuhanan, keimanan dan tasawuf. Disini Raden Paku sampai pada tingkat ilmu laduni sehingga gurunya menganugrahinya gelar Ai Al Yaqin karena itulah ia kadang-kadang dikenal masyarakat dengan sebutan Raden Ainul Yakin.

Sunan Giri terkenal sebagai pendidik yang berjiwa demokratis. Ia mendidik anak-anak melalui berbagai permainan yang berjiwa agama. Misalnya jelungan, jamuran, gendi ferit, jor, gula ganti, cublak-cublak suweng, ilir-ilir dan sebagainya. Ia juga dipandang sebagai orang yang sangat berpengaruh terhadap jalannya roda kesultanan Demak Bintoro (Kesultanan Demak) sebab setiap kali muncul masalah penting yang harus diputuskan wali yang lain selalu menantikan keputusan dan pertimbangannya.


e. Sunan Drajat (Ampel Denta, Surabaya, sekitar Tahun 1470 Sedayu, Gresik pertengahan abad ke-16)

Nama aslinya Raden Kosim atau Syarifudin tetapi karena ia dimakamkan di daerah Sedayu, maka kebanyakan masyarakat awam mengenalnya sebagai Sunan Sedayu.Menurut Silsilah, Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel dari istri kedua bernama Dewi Candrawati. Ia mempunyai enam saudara seayah seibu diantaranya Siti Syareat (istri Raden Usman Haji), Siti Mutma’innah (Istri Raden Muhsin), Siti Sofiah (istri Raden Usman Ahmad, Sunan Malaka), dan Raden Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), disamping itu ia mempunyai dua orang saudara seayah lain ibu yaitu Dewi Murtasiyah (istri Raden Fatah) dan Dewi Murtasimah (istri Raden Paku atau Sunan Giri), Istrinya sendiri Dewi Sifiyah adalah putri Sunan Gunung Jati.

Hal yang paling menonjol dalam dakwah Sunan Drajat adalah perhatiannya yang sangat serius pada masalah-masalah sosial. Ia terkenal mempunyai jiwa sosial dan tema-tema dakwahnya selalu berorientasi pada kegotongroyongan. Ia selalu memberi pertolongan kepada umum, menyantuni anak yatim dan fakis miskin sebagai suatu proyek sosial yang dianjurkan agama Islam.


f. Sunan Kalijaga (akhir Abad ke-14 Pertengahan abad ke-15)

Terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar, berpandangan jauh berpikiran tajam, intelek, serta berasal dari suku Jawa Asli. Nama Kalijaga konon berasal dari rangkaian bahasa Arab qadi zaka yang berarti pelaksana dan membersihkan. Qadizaka yang kemudian menurut lidah dan ejaan menjadi Kalijaga berarti pemimpin atau pelaksana yang menegakkan kebersihan atau kesucian. Nama Asli Sunan Kalijaga adalah Raden Mas Syahid dan kadang-kadang dijuluki Syekh Malaya. Ayahnya bernama Raden Sahur Tumenggung Wilatikta yang menjadi bupati Tuban, sedang ibunya bernama Dewi Nawang Rum.
Daerah operasi dakwah Sunan Kalijaga tidak terbatas, bahkan sebagai mubaligh ia berkeliling dari satu daerah ke daerah lain. Karena sistem dajwahnya yang intelek dan aktual maka para bangsawan dan cendekiawan sangat simpati terhadapnya, demikian juga lapisan masyarakat awam, bahkan penguasa, berdakwahnya tidak monoton, sesekali diisi dengan cerita-cerita humor yang mendidik, sekaligus menarik perhatian.

Jasa Sunan Kalijaga terhadap kesenian bukan hanya terlihat pada wayang dan gamelan, tetapi juga dalam seni suara, seni ukir, seni busana, seni pahat dan kesusastraan. Banyak corak batik yang oleh Sunan Kalijaga diiberi motif burung. Burung dalam bahasa Kawi disebut kukula. Kata tersebut ditulis dalam Bahasa Arab menjadi qu dan qila yang berarti “peliharalah ucapanmu sebaik-baiknya” dan menjadi salah satu ajaran etik Sunan Kalijaga melalui corak batik.


g. Sunan Kudus (Abad ke-15 – Kudus 1550)

Nama aslinya Ja’far Sadiq, tetapi sewaktu kecil dipanggil Raden Undung. Kadang-kadang ia dipanggil dengan Raden Amir Haji, sebab ketika menunaikan ibadah haji ia bertindak sebagai pimpinan rombongan (amir).
Sunan Kudus adalah putra Raden Usman Haji, yang menyiarkan Islam di daerah Jipang Panolan, Blora. Menurut silsilah Sunan Kudus masih mempunyai hubungan keturunan dengan Nabi Muhammad SAW. Silsilah selengkapnya : Ja’far Sadiq bin Raden Usman Haji bin Raden Pendeta bin Ibrahim as-Samarkandi bin Maulana Muhammad Jumadalkubra bin Zaini Al-Husein bin Zaini Al-Kubra bin Zainul Alim bin Zainul Abidin bin Sayid Husein bin Ali ra.
Sunan Kudus menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya dan dia memiliki keahlian khusus dalam bidang ilmu agama, terutama dalam ilmu fikih, usul fikih, tauhid, hadits, tafsir, serta logika. Karena itulah diantara Walisongo hanya ia yang mendapat julukan Wal Al-ilmi (orang yang luas ilmunya) dan karena keluasan ilmunya ia didatangi oleh banyak penuntut ilmu dari berbagai daerah di Nusantara.
Disamping menjadi juru dakwah, Sunan Kudus juga menjadi panglima perang Kesultanan Demak Bintoro yang tangguh dan dipercaya untuk mengendalikan pemerintahan sekaligus pemimpin agama di daerah tersebut.


h. Sunan Muria (abad ke-15 – abad ke-16)

Salah seorang Walisongo yang banyak berjasa dalam menyiarkan Islam di pedesaan Pulau Jawa adalah putra Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Umar Said, atau Raden Said sedang nama kecilnya adalah Raden Prawoto, namun ia lebih terkenal dengan nama Sunan Muria karena pusat kegiatan dakwahnya dan makamnya terletak di Gunung Muria (18 km di sebelah utara kota Kudus sekarang).

Sunan Muria juga terkenal sebagai pendukung setia Kesultanan Demak Bintoro dan berperan serta dalam mendirikan Masjid Demak. Dalam rangka dakwah melalui budaya ia menciptakan tembang dakwah Sinon dan Kinanti.


i. Sunan Gunung Jati (Mekah, 144-Gunung Jati, Cirebon Jawa Barat 1570)

Salah seorang dari Walisongo yang bayak berjasa dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa terutama di Jawa Barat juga pendiri kesultanan Cirebon. Nama aslinya Syarif Hidayatullah dialah pendiri Dinasti Raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten.

Sunan Gunung Jati adalah cucu raja Pajajaran, Prabu Siliwangi. Dari perkawinan Prabu Siliwangi dengan nyai Subang Larang, lahirlah dua putra dan satu putri, masing-masing bernama Raden Walangsungsang, Nyi Lara Santang dan Raja Sengara.

Setelah Nyai Subang Larang wafat, Raden Walangsungsang keluar dari keraton tidak lama setelah itu adik perempuannya menyusul. Keduanya belajar agama Islam kepada Syekh Datu Kahfi (Syekh Nurul Jati) di Gunung Jati Ngamparan Jati. Setelah 3 tahun belajar, mereka diperintahkan gurunya utuk ibadah haji ke Mekah. Di Mekah, Nyai Lara Santang mendapat jodoh yaitu Maulana Sultan Mahmud (Syarif Abdullah) seorang bangsawan Arab yang berasal dari Bani Hasyim.

Setelah menunaikan ibadah Haji, Raden Walangsungsang kembali ke Jawa dan menjadi juru labuhan di Pasambangan yang kemudian berkembang menjadi Cirebon. Sementara itu Nyai Larang Santang melahirkan Syarif Hidayatullah setelah dewasa, Syarif Hidayatullah memilih berdakwah ke Jawa daripada menetap di tanah Arab. Dia kemudian menemui Raden Walangsungsang yang sudah bergelar Pangeran Cakrabuana. Setelah pamannya itu wafat, ia menggantikan kedudukannya dan kemudian berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kesultanan, ia kemudian terkenal dengan gelar Sunan Gunung Jati.

Menurut Purwaka Caruban Nagari, Sunan Gunung Jati sebagai salah seorang Walisongo mendapat penghormatan dari raja-raja lain di Jawa seperti Kerajaan Demak dan Pajang. Karena kedudukannya sebagai raja dan ulama ia diberi gelar Raja Pandita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Copyright by Perdetik Blog